Photos of the three FCJ Sisters who work in Myanmar.Pelayanan di Myanmar

Komunitas FCJ di Yangon

Tentang Myanmar

Map of Myanmar.Populasi. Myanmar, yang semula disebut Burma terletak di Asia Tenggara, memiliki populasi sekitar 56 juta jiwa. Myanmar berbatasan dengan India, Bangladesh, China, Laos dan Thailand. Ada tujuh bagian (state) serta tujuh divisi yang merupakan suku Burmese. Secara keseluruhan ada 135 suku diantaranya Bamar (Burman), Karen, Kachin, Chin, Shan, Mon, Rakhine dan Kayah.

Kemiskinan. Myanmar merupakan salah satu Negara termiskin di dunia. 33% dari populasi hidup di bawah garis kemiskinan dan banyak anak serta kaum muda tidak mendapat pendidikan serta kesehatan yang layak. Pendidikan merupakan sarana utama dalam memutus rantai kemiskinan ini.

Bahasa. Burmese merupakan bahasa asli suku Bamar, suku terbesar di Myanmar. Ada  banyak suku  serta bahasa daerah yang juga terdapat di Negara ini.

Agama. Agama Budha merupakan agama mayoritas (89% dari keseluruhan populasi) namun demikian ada nuansa kebebasan beragama: Kristen (4%), Islam (4%), Hindu (1%) dan kepercayaan tradisional (1%), hal ini menunjukkan adanya praktek kemerdekaan beragama.

A contented elderly lady collects water; children everywhere love football; a young girl collects leaves to feed the goats.
Seorang perempuan tengah umur dengan senang hati mengambil air; anak-anak dimanapun senang bermain sepak bola; seorang gadis muda mencari dedaunan untuk makan kambing ternak.

Group of happy students in Yangon; school children wearing thanaka; creative and enthusiastic student!
Sekelompok murid-murid yang ceria di Yangon; anak-anak sekolah memakai tanaka; murid yang kreatif serta antusias!


 

Marion Dooley FCJ, seorang pendidik

Sejak kedatanganku di Myanmar saya sudah merasa ‘kerasan’. Alasan yang paling utama dari semua ini adalah penduduk Myanmar itu sendiri. Mereka memiliki kualitas yang menarik, martabat, kesederhanaan, keramahtamahan, keterbukaan akan hidup serta pembelajaran, kelemahlembutan, kerinduan akan kekerabatan, serta kehangatan dan persahabatan.

Sr. Marion experiencing Myanmar hospitality, with a group of villagers, with students from a village in Central Myanmar.
Sr Marion mengalami keramahantamahan di Myanmar, bersama sekelompok penduduk desa,
siswa-siswi dari sebuah desa di Myanmar Tengah.

Kerasulanku beragam namun semua berkisar seputar pendidikan, baik formal maupun informal. Saya melihat diri saya sebagai seorang pendidik daripada seorang guru, karena saya memberi ruang dalam pembelajaran serta penyadaran. Saya memberi undangan serta dorongan kepada para murid untuk menggali penemuannya sendiri daripada sekedar memberikan pengetahuan.

Bagi saya, jembatan antara pengetahuan serta penyadaran adalah refleksi, maka praktek refleksi yang memberi ruang untuk transformasi pribadi merupakan hal penting yang saya lakukan, entah itu dengan para calon guru yang akan bekerja di pelosok pedesaan, pemimpin kaum muda, dewasa, kelompok ibu-ibu atau lewat pendampingan rohani.


Dalam sebuah sesi training bagi pemimpin kum muda; calon guru sedang diskusi dengan Marion.

Ada kekosongan yang besar dalam diri kaum muda untuk mengenal diri, dalam memahami perasaan-perasaan, kerinduan serta pengalaman dalam hidup mereka. Mereka haus untuk belajar hal – hal yang baru, untuk menggali dan memahami hidup mereka serta mengerti secara lebih dalam diri serta kehidupan mereka. Merupakan rahmat yang besar berada  pada posisi untuk menemani mereka dalam petualangan kudus ini.   Saya bersyukur, tersentuh dan diperkaya oleh kejujuran, keterbukaan, serta sharing mereka.

Sejak dua tahun yang lalu, saya begitu bergembira mengenal dan bekerja dengan orang-orang yang luar biasa yang berkecimpung dalam pendidikan di desa-desa sekitar Mount Popa di Mandalay Division, Myanmar Tengah. Saya sangat terkesan dengan semangat serta komitmen mereka dalam penyediaan kondisi kehidupan yang layak, kesempatan serta pendidikan bagi orang dewasa maupun anak-anak setempat. Wilayah ini amatlah miskin secara ekonomi dan penduduknya berjuang dalam lingkungan yang keras serta kering demi keluarga. Daya juang, hidup kelompok, rasa humor, kemurahan hati serta semangat saling mendukung dari kelompok ini mmapu membangun kehidupan mereka secara lebih baik.

Sr. Marion on cow cart in Mount Popa; People come for miles on cow carts tocollect water from this lake; Sr. Marion receives some seeds from a young boy.
Sr Marion di atas dokar di Mount Popa; Orang- orang berdatangan naik dokar untuk mengambil air dari danau ini;
Sr Marion menerima bebijian dari seorang anak kecil.

 

Agnes Samosir, fcJ berbagi persahabatan…

… dengan perempuan.  Secara teratur kita mengadakan pertemuan setiap dua bulan. Kita saling berbagi informasi, kepedulian serta ide satu sama lain dan juga dengan perempuan lain.

Agnes at a workshop of 'Ecclesial Women in Asia, 2010; Agnes with some women.

Sr. Agnes with young people.Sr. Agnes with Burmese teacher.... dengan kaum muda.  Being with young people here is always enjoyable.  Their enthusiasm, openness, honesty and eagerness to learn often give me energy to give more… 

… dengan Guru bahasa Burma.  
Belajar bahasa Burma adalah prioritas…Semakin saya tahu bahasa, semakin mudah saya berbagi persahabatan… Semakin baik kita membangun relasi yang adil.
Sr. Agnes with students at the Indonesian School in Yangon.


 … dengan murid-murid di Sekolah Internasional Indonesia di Yangon (IISY).
Bahasa Indonesia merupakan pelajaran wajib di sekolah ini. Dua minggu sekali, saya mengajar ‘Bahasa Indonesia’ untuk murid-murid Myanmar. Dari sekitar 300 murid, hanya ada 16 murid Indonesia! Tentu saja, ini sebuah tugas  menantang namun saya menikmati berada bersama murid-murid yang hebat dan antusias.

…dengan para murid meditasi Budha.  Saya telah belajar meditasi Budha sejak May 2010 dengan seorang guru yang rendah hati dan sederhana, Ko Ko Lay di Nyaung Yan Pusat Meditasi, Kaba Aye. Setiap Minggu pagi, saya pergi ke tempat ini dan belajar meditasi selama satu jam.


Dalam keheningan kita bersama…

Dalam keheningan kita terjalin…

Dalam keheningan kita memelihara kedamaian…

Dalam keheningan kita membangun persatuan.

 

Sisca Setiati, fcJ shares friendship and FCJ spirituality…

Lake in Yangon.Children.Sebagai seorang FCJ yang telah tinggal di Myanmar selama kurang lebih tiga tahun, Sisca menikmati perjumpaan dengan banyak orang dari berbagai suku di Myanmar.

Dia bertumbuh dalam kecintaan terhadap budaya serta masyarakatnya. Baginya, merupakan rahmat besar untuk bisa menjalin persahabatan dengan mereka. "Wawasanku menjadi lebih luas berkat perjumpaan dengan mereka", katanya.

Berkerasulan dengan kaum muda juga dia hayati sebagai suatu rahmat karena menjadi kesempatan untuk terlibat dalam hidup dan proses pendidikan mereka: "Keterbukaan, keramahtamahan, serta keinginan mereka untuk mendapatkan pengetahuan sungguh memberi inspirasi."

Burmese students and temple.

Sisca with local people.Sisca mengembangkan ketrampilannya berbahasa Burma dengan mengikuti kelas serta mengunjungi keluarga-keluarga setempat sambil sesekali waktu membuatkan mereka kue untuk perayaan ulang tahun atau perayaan keluarga lainnya.

Kerasulan ini memberinya kesempatan untuk lebih mengenal dan menghargai budaya Myanmar serta mengembangkan persahabatan secara lebih mendalam.

Sebagai seorang promoter panggilan, sisca dengan giat mengenalkan Serikat FCJ lewat berbagi karisma persahabatan sebagai seorang Sahabat Setia Yesus.


 

New water tank funded by donations.Dermawan yang murah hati

Lewat bantuan serta kemurahan para dermawan dari Eropa dan Australia, kita telah mampu menyediakan buku-buku serta perlengkapan. Seorang keluarga muda di Australia telah membantu membuat dua sumur di sebuah desa mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Keluarga ini merayakan kelahiran anaknya di tahun 2010. Sebuah cara yang indah untuk mensyukuri sebuah kelahiran dengan membantu sesama memiliki kualitas hidup yang lebih baik dengan menyediakan sumber air bersih bagi mereka.

Sumur-sumur ini sedalam 700 kaki karena areanya terlalu kering. Area ini amat miskin dan berada di luar jangkauan penduduk setempat dalam mendapatkan sarana maupun sumber mata pencaharian. Nama dan tanggal anak yang baru lahir tertulis pada tembok kedua sumur. Harapannya, relasi akan tercipta antara si anak, keluarga, serta penduduk desa.