FCJ di Asia-Australia menceritakan kisah panggilan mereka

Caecilia Pirenaningtyas, novis fcJ  (Tyas)

Halo! Saya CaeciliaPirenaningtyas, dipanggil Tyas, saya seorang novis FCJ sejak 25 April, 2011. Saya masuk sebagai postulan pada bulan April, 2010. Selama masa postulansi, kerasulan saya meliputi kunjungan keluarga-keluarga yang berada di dekat rumah biara kami,  membantu kaum muda dan ibu-ibu di lingkungan dalam pengajaran katekese Sekolah Minggu, saya juga memberi les kepada anak-anak di lingkunagn setiap Senin sore di biara FCJ, Baciro, Yogyakarta.

Tutoring the local children. At Mass during the program for postulants.
Memberi les kepada anak-anak Saat Misa selama program untuk para  postulan

Selain itu, saya juga berpartisipasi dalam kursus antar kongregasi untuk para postulan setiap hari Selasa dan Rabu. Keseluruhan anggotanya berjumlah  sekitar 80 orang. Sebagai penutupan awal semester diadakan pentas budaya di Biara  Bruder Fransiskan. Dalam pentas itu saya membaca puisi dalam bahasa Jawa dan menyanyikan lagu tentang sebuah sungai di Solo, sementara seorang teman mengiringi dengan gitar.


Salvacion Tejada Sodusta, fcJ (Ciony)

Photo of Ciony standing near Society Mandala.Namaku Ciony. Ketika dibaptis saya diberi nama SalvaciontejadaSodusta, dilahirkan oleh kedua orang tua berasal dari Ilongo. Asalku dari Naga ZamboangSibugay, sebelah barat daya Mindanao. Saya bersyukur dan bergembira bahwa orang tua saya, khususnya ibu meminta saya dari Tuhan dan bahkan mempersembahkannya kembali kepadaNya sebagai ungkapan syukur.

Aku yakin panggilanku, berdasar pada kehidupan pribadi serta imanku.  Ketika ibuku hendak melahirkanku, dia berdoa kepada Black Virgin (sebuah gelar Bunda Maria) yang disebut Nuestra Senora Salvacion. Dikisahkan,  bahwa nenekku memberi nama Salvacion yang artinya diselamatkan dan menyelamatkan, yang berasal dari nama Black Virgin.

Saya bertumbuh dalam asuhan nenek dan juga belajar berdoa darinya. Dialah yang mengajarkan bahwa saya adalah anugerah.  Menjadi apa saya kelak merupakan hadiah saya bagi Tuhan. Pada mulanya saya tidak sungguh memahami maksud ini sampai alhirnya saya bertemu Suster-suster FCJ yang datang ke Naga. Mereka adalah religius yang saya jumpai pertama kali.  Saya semakin mengenal mereka dan mereka menjadi teman-teman saya. Kehadiran mereka memberi inspirasi untuk melihat apa yang Tuhan mau atas hidup saya. Umur saya 14 tahun ketika ide bergabung menjadi FCJ muncul, namun Sr Veronika Schreiner FCJ membantu untuk membuat prioritas dan berfokus secara lebih jelas dari pada segera melompat menjadi seoarang ”madre.” Dia mendorongku agar lebih mempunyai pengalaman hidup, menyelesaikan studi, bekerja lalu menjadi dewasa dan bertanggung jawab dalam pilihan-pilihan dan tindakanku. Dia memberiku doa Marie Mdeleine yang kemudian menjadi doa pribadiku: “Tuhan aku tak ingin meminta apapun, selain pemenuhan kehendak kudusMu, berilah aku rahmat untuk melakukannya dengan setia segera setelah aku mengetahuinya.”

Saya sungguh tidak mengerti arti doa itu, tapi begitu senang mendoakannya dan mengulanginya setiap hari dan kemudian menyadarinya ketika membuat keputusan, doa itu begitu membantuku. Lalu saya membuatnya dalam versi saya sendiri: “Tuhan, Engkau telah menyelamatkan hidupku dan diirku adalah sepenuhnya anugerahMu, aku ingin menjadi hadiah bagiMu dan aku ingin menyelamatkan yang lain juga, namun aku tidak mampu melakukannya tanpa bantuanMu. Berilah aku rahmat untuk melakukannya dengan setia dan cinta. Amen.”  

Perjalananku bersama Tuhan sampai saat ini selalu terinspirasi oleh doa-doa dan refleksi, bagaimana Tuhan menopangku penuh kasih dan kesetiaan.


Maureen Merlo fcJ

Photo of Sr. Maureen.Tahun ke 12 dalam masa sekolahku, semua murid terlibat dalam renungan Kisah Sengsara yang dipentaskan untuk Pekan Suci. Setiap murid disiapkan oleh seorang FCJ. 

Dalam salah satu sesi, Sr Eleanor fcJ diam-diam bertanya kepadaku: Pernahkah kamu berfikir untuk menjadi seorang fcJ? Pertanyaan ini mengejutkanku karena ide panggilan tak pernah masuk dalam benakku meskipun kita telah sering membahas tentang hidup religious. Namun demkian, pada bulan-bulan berikutnya ide itu tetap tinggal bahkan semakin kuat meskipun pada saat itu ide itu bukanlah yang aku inginkan. Memang, saya melihat diriku sebagai guru melainkan sebagi seorang FCJ.  

Setelah melalui doa dan refleksi, ide itu tetap ada, mungkin memang Tuhan sedang memanggilku sebagai seorang FCJ. Orang tuaku sempat terkejut dan  heran ketika aku menceritakannya dan mereka memintaku menunggu untuk beberapa waktu. Lalu saya belajar menjadi guru SD dan mengajar selama setahun. Setelahnya keinginan bahwa Tuhan memanggilku untuk hidup  religius semakin kuat. Meskipun orang tuaku tidak bahagia Karen keputusanku, mereka mengijinkanku untuk masuk novisiat. Mereka cukup yakin bahwa hidup religius  tidak cocok untukku. Namun, ada saatnya mereka menyadari bahwa saya memang diperuntukkan untuk hidup religius dan mereka amat mendukung saya. 

Setelah beberapa tahun hidup religius, saya masih berbahagia menghidupi panggilan sebagai suster FCJ dan sangat berterima kasih kepada Sr Eleonor untuk menyebarkan benih panggilan itu dengan bertanya kepadaku:” Pernahkah kamu berfikir untuk menjadi seorang FCJ?”